Kamis, 05 Mei 2011

Penggunaan zat adiktif

Penggunaan zat adiktif

Hampir semua orang dengan HIV menggunakan sejenis zat adiktif tertentu. Kebanyakan orang menggunakan zat adiktif legal seperti kopi, teh atau coklat, serta banyak juga orang yang minum alkohol atau merokok tembakau. Selain itu, banyak orang dengan HIV yang juga menggunakan napza.
Pada bagian ini, diberikan informasi mengenai alkohol, tembakau dan apa yang disebut zat adiktif rekreasional (recreational drugs).


Alkohol


Alkohol merupakan zat adiktif dan memiliki berbagai bentuk, termasuk bir, asam cuka, anggur, 'alcopops' dan spirits seperti whisky, gin dan vodka.
Alkohol tersedia di Indonesia dan banyak dijual di tempat-tempat berlisensi kepada orang yang berusia di atas 18 tahun, serta dinikmati dan digunakan dengan aman oleh banyak orang. Namun, alkohol merupakan penyebab masalah kesehatan dan sosial. Di Inggris, alkohol menyebabkan lebih banyak kematian daripada jenis zat adiktif lainnya.
Alkohol menjadikan otak dan badan lebih santai, dan biasanya diminum untuk efek yang menyenangkan ini. Karena kemampuannya untuk merubah suasana hati dan menyebabkan perubahan fisik, alkohol juga dapat menyebabkan masalah fisik, psikologis dan sosial. Banyak orang yang merasa bahwa minum alkohol secara moderat (satu atau dua unit alkohol per hari) dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan rasa relaks, dan berfungsi untuk mengundang selera makan. Satu unit alkohol itu sama dengan setengah pint bir berkekuatan normal atau lager, segelas anggur, atau segelas kecil sherry atau port.
Lembaga-lembaga kesehatan menganjurkan laki-laki untuk tidak minum lebih dari 3 hingga 4 unit alkohol per hari. Untuk perempuan, batas hariannya adalah 2-3 uniit. Saran ini berlaku juga apakah anda minum tiap hari, mingguan atau di antara itu. Menghabiskan "jatah" minum per minggu anda dalam sekali waktu (sering disebut binge drinking) dapat menyebabkan lemahnya daya koordinasi, muntah-muntah, reaksi emosional yang berlebihan (termasuk rasa sedih, tangis, marah dan kekasaran) dan bahkan dapat menyebabkan pingsan. Perempuan yang hamil, atau berencana untuk hamil, disarankan untuk tidak minum lebih dari 1 hingga 2 unit per minggu.
Hangover pada hari berikutnya -- sakit kepala, mulut kering, merasa sakit dan lelah -- merupakan konsekuensi umum dari minum alkohol yang banyak pada malam sebelumnya. Gejala-gejala ini disebabkan karena dehidrasi dan keracunan, maka, bila anda minum alkohol, anda sebaiknya juga minum banyak air.
Karena bahwa jumlah kecil alkohol dapat mempengaruhi koordinasi, reaksi dan kemampuan anda mengambil keputusan, anda tidak boleh minum bahkan setetespun bila akan mengendalikan kendaraan bermotor atau mesin.
Minum alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan koma dan bahkan kematian.
Konsumsi alkohol yang banyak dalam jangka panjang (10 unit atau lebih per hari untuk laki-laki atau 6 unit atau lebih untuk perempuan) dapat menyebabkan buruknya kesehatan, mempengaruhi hati, jantung dan otak. Minum alkohol setiap hari dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis.
Selain itu, orang yang minum alkohol dalam jumlah besar seringkali memiliki pola makan yang buruk dan ini dapat menyebabkan permasalahan kesehatan lain. Alkohol merupakan zat depresif dan dapat menyebabkan atau memperburuk masalah mental, psikologis atau emosional. Bila digunakan bersamaan dengan zat lain, seperti obat penghilang rasa sakit yang biasa seperti parasetamol, alkohol dapat menimbulkan efek yang lebih buruk.
Tidak ada bukti bahwa minum alkohol secara moderat (satu atau dua unit alkohol per hari) dapat menyebabkan masalah bagi orang dengan HIV. Namun, bila anda memiliki hepatitis atau bila tingkat lemak darah anda tinggi, maka anda harus mengurangi konsumsi alkohol anda atau berhenti sama sekali.
Minum alkohol berlebihan dapat mempengaruhi kekebalan tubuh anda dan dapat memperlambat kesembuhan dari infeksi.
Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat juga mengakibatkan efek serius pada orang yang mengkonsumsi obat anti-HIV. Alkohol diproses oleh hati dan hati yang sehat dibutuhkan agar tubuh dapat memproses obat-obatan secara efektif. Peningkatan lemak darah yang disebabkan oleh beberapa jenis obat anti-HIV dapat diperparah dengan konsumsi alkohol berlebihan.
Orang yang memiliki hepatitis dan HIV dianjurkan untuk sama sekali tidak minum alkohol.
Orang yang hatinya rusak akibat terlalu banyak alkohol (terutama bila ia memiliki hepatitis) lebih mungkin untuk mengalami efek samping dari obat anti-HIV, khususnya protease inhibitor.
Alkohol dapat bereaksi buruk dengan beberapa jenis obat (misalnya beberapa jenis obat anti-TB dan antibiotik) sehingga anda harus berkonsultasi dengan ahli farmasi untuk menentukan apakah aman untuk minum alkohol dengan obat-obatan baru yang diresepkan. Namun, tidak ada interaksi signifikan antara obat-obatan anti-HIV yang ada sekarang dengan alkohol.
Alkohol dapat menyebabkan muntah. Bila anda muntah dalam satu jam setelah minum obat anti-HIV, atau obat lain yang harus anda minum, maka anda harus mengulangi dosis tersebut.


Amphetamin


Liat juga bagian mengenai crystal meth.
Amphetamin merupakan stimulan yang biasanya diminum secara oral, walaupun dapat juga dilarutkan dalam air, dihirup, atau disuntikkan.
Amphetamin menyebabkan meningkatnya detak jantung, berkurangnya nafsu makan, memperbaiki suasana hati, dan membesarnya pupil mata. Pengguna amphetamin menyebutkan adanya "rush" rasa percaya diri yang bertahan tiga atau empat jam sebelum kemudian "turun". Rasa khawatir dan gelisah kemudian mengambil alih dari titik ini. Penggunaan amphetamin secara berulang kali dapat menyebabkan toleransi terhadap jenis napza ini, yang berarti anda harus mengkonsumsi lebih banyak untuk mencapai rasa "high". Gejala gelisah, paranoia dan panik dapat juga muncul. Penggunaan jangka panjang dan berat dapat menyebabkan gangguan mental.
Penggunaan amphetamin menunda, namun tidak menghilangkan, kebutuhan untuk makan. Pengguna reguler seringkali mengalami turunnya berat badan dan malnutrisi. Hal ini mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, dan ini merupakan masalah besar bagi orang dengan HIV.
Tidak ada bukti bahwa pengguna amphetamin yang HIV-positif mengalami pergerakan penyakit yang lebih cepat, namun lihat bagian mengenai crystal meth (methamphetamine).


Steroid anabolik


Steroid anabolik adalah hormon yang biasanya digunakan sebagai zat untuk membentuk otot. Binaragawan, dan semakin banyak pengunjung gym menggunakan steroid anabolik dalam siklus empat-mingguan, untuk meningkatkan efek latihan mereka.
Laki-laki HIV-positif kadang-kadang diresepkan steroid anabolik atau terapi pengganti testosterone apabila tingkat testoterone alamiah mereka rendah atau bila mereka kehilangan banyak otot.
Steroid dapat sangat beracun untuk hati, dan dapat juga menyebabkan jerawat, kebotakan pada laki-laki, masalah seksual dan pengecilan testikel. Perempuan yang menggunakan steroid anabolik dapat membentuk karakteristik laki-laki.
Steroid yang dibeli di gym seringkali palsu atau terkontaminasi dan dapat sangat beracun bagi hati dan menyebabkan kerusakan syaraf.
Terdapat kontroversi mengenai ffek steroid anabolik terhadap sistim kekebalan tubuh. Beberapa peneliti menganggap bahwa steroid jenis ini immunosuppressif, namun berdasarkan penelitiaan terhadap sistim kekebalan tubuh laki-laki HIV-positif yang diresepkan steroid sebagai penangkal wasting menunjukkan bahwa steroid sama sekali tidak menekan kekebalan tubuh. Namun, diketahui bahwa penggunaan steroid dapat meningkatkan tingkat kolesterol LDL (jahat), sehingga penggunannya harus digunakan secara sangat berhati-hati dan di bawah pengawasan ketat dokter bila anda memiliki tingkat lemak darah yang tinggi akibat medikasi anti-HIV anda.
Penggunaan jarum suntik bergantian antara pengguna steroid memiliki risiko yang sama untuk penularan HIV sebagaimana penggunaan bergantian jarum suntik untuk napza.


Barbiturat (downer)


Barbiturat digunakan secara medis untuk menenangkan orang dan sebagai obat tidur. Barbiturat merupakan obat yang dibeli dengan resep.
Barbiturat mempengaruhi sistim syaraf pusat, menyebabkan perasaan lembab, dan tergantung pada dosisnya, efeknya dapat bertahan antara tiga hingga enam jam. Barbiturat dapat menyebabkan orang jadi sembrono, merasa bahagia dan kebingungan mental -- ketidakbahagiaan juga dapat diakibatkan oleh barbiturat.
Dosis yang tinggi dapat menyebabkan pingsan, masalah pernapasan dan kematian. Kematian akibat overdosis merupakan bahaya yang sangat nyata, karena dosis yang berbahaya takarannya sangat dekat dengan dosis normal yang aman. Kemungkinan overdosis lebih meningkat lagi bila barbiturat dikonsumsi bersamaan dengan alkohol. Risiko penggunaan barbiturat juga meningkat bila obat tersebut disuntikkan.
Tubuh dapat dengan cepat menjadi toleran terhadap barbiturate, yang mengakibatkan ketergantungan fisik dan mental. Sakaw dapat menunjukkan gejala mudah marah, tidak bisa tidur, sakit-sakitan, tidak bisa diam, kejang-kejang, dan halusinasi.
Pengguna berat barbiturat lebih rentan terhadap masalah dada dan hipotermia.


Ganja


Ganja dapat dihisap, biasanya bersamaan dengan tembakau, dimakan, diminum dalam 'teh' atau dihirup sebagai snuff. Obat ini mempengaruhi sistim syaraf pusat dan, sebagai akibatnya, penggunanya dapat mengalami keringanan dari rasa sakit, merasa kepala ringan, relaks, atau mengantuk. Obat ini dapat juga menstimulir rasa nafsu makan atau mengemil. Namun ganja juga diketahui dapat merusak daya koordinasi, dan dapat menyebabkan mual dan muntah serta kekhawatiran berlebih dan paranoia, yang seiring penggunaan jangka panjang, dapat menjadi semakin parah.
Penggunaan ganja sebagai obat melanggar hukum, dan karenanya terdapat sedikit bukti mengenai efek ganja saat digunakan untuk mengelola kondisi kesehatan kronis. Namun, penggunaan ganja secara ilegal banyak dilakukan untuk alasan pengobatan, seringkali sebagai penghilang rasa sakit atau sebagai penambah nafsu makan. Pada tahun 1996, sebuah uji coba klinis di San Fransisco menemukan bahwa orang dengan penyakit wasting HIV yang menggunakan ganja lebih mungkin menambah berat badan. Ganja juga banyak digunakan untuk meringankan insomnia dan gejala kekhawatiran serta stress. Ganja juga digunakan oleh orang-orang dengan multiple sclerosis sebagai penenang otot.
Risiko jangka pendek penggunaan ganja termasuk rasa khawatir berlebih, panik dan paranoia. Daya ingat dan daya konsentrasi mungkin juga terdampak, seperti juga kemampuan untuk mengendalikan kendaraan bermotor dan mesin. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja di antara anak muda menunjukkan kemungkinan terjadinya masalah kesehatan mental di kemudian hari. Penggunaannya selagi hamil telah dikaitkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan kurang.
Bila ganja dihisap, penggunaan jangka panjangnya diketahui dapat menyebabkan  penyakit pernapasan dan kardiovaskular yang biasa terjadi pada orang merokok seperti asma, bronkitis, emfisema dan penyakit jantung, Hal ini menjadi perhatian bagi orang dengan HIV yang memiliki kerusakan paru-paru dari TB, atau bagi mereka yang tingkat lipidnya meningkat akibat obat-obatan anti-HIV, karena dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Juga terdapat bukti bahwa menghisap ganja dapat menyebabkan kanker mulut, tenggorokan dan paru-paru.
Gejala pelupa kronis serta menurunnya daya konsentrasi telah diperhatikan dalam penggunaan jangka panjang ganja, pada beberapa kasus bahkan setelah penggunannya dihentikan, dan terdapat bukti bahwa pengguna jangka panjang dapat mengalami ketergantungan psikologis terhadap ganja. Dalam survei baru-baru ini penggunaan ganja sehari-hari oleh anak muda diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi di kemudian hari, penggunaan ganja juga telah dihubungkan dengan meningkatnya risiko schizophrenia.
Tidak diketahui reaksi ganja dengan obat anti-HIV. Sebuah penelitian kecil di Amerika tidak menemukan dampak penggunaan ganja terhadap efektivitas protease inhibitor indinavir (Crixivan), walaupun obat tersebut menggunakan mekanisme yang sama untuk lewat dalam tubuh. Seperti obat pengubah suasana hati atau kesadaran yang lain, ganja dapat berdampak pada kemampuan seseorang untuk mematuhi jadwal pengobatan.


Kokain


Bersama kebanyakan zat adiktif rekreasional lainnya, statistik menyebutkan bahwa terdapat lebih banyak orang yang menggunakan kokain (coke, charlie, snow, powder, marching powder) beserta turunan kokain, crack (freebase).
Kokain merupakan stimulan yang berasal dari daun koka dari Amerika Selatan. Bentuknya berupa bubuk putih dan biasanya dihirup ke dalam hidung dan menyebabkan perasaan senang, percaya diri yang berlangsung selama 15-30 menit. Kokain juga dapat digosokkan ke gusi dan ke dalam anus atau vagina sebelum seks penetratif. Terkadang kokain juga dibuat sebagai solusi untuk disuntikkan, namun hal ini jarang.
Crack dijual dalam bentuk kerikil kecil, yang dihisap baik sebagai rokok atau dalam pipa. Dalam sejarahnya, crack sering dihubung-hubungkan dengan populasi miskin kota, namun sebenarnya digunakan oleh orang dari strata sosial yang luas.
Pengguna kokain dapat menggunakan banyak dosis untuk mempertahankan rasa high, yang dapat menyebabkan kekhawatiran berlebih, paranoia serta toleransi terhadap kokain, yang berarti dosis yang lebih tinggi harus digunakan untuk menciptakan rasa high yang sama. Walaupun efek ketergantungannya tidak sama dengan heroin atau opiat, pengguna dapat sangat tergantung secara psikologis sehingga merasa kekhawatiran berlebih, depresi, atau rasa lelah yang sangat bila mereka menghentikan penggunaan.
Penggunaan jangka panjang kokain dan crack dapat menyebabkan kekhawatiran berlebih, depresi klinis, masa-masa psikotis, peningkatan kekerasan, kehilangan berat badan serta malnutrisi. Keduanya telah diketahui dapat menyebabkan masalah jantung yang berpotensi fatal termasuk serangan jantung, angina, detak jantung tak teratur serta inflamasi dan pembesaran jantung.
Seperti halnya dengan napza jalanan lainnya, kokain murni jarang sekali dijual ke pengguna. Kokain sering dicampur dengan napza murahan lain seperti amphetamin (speed), talc atau deterjen, yang dapat beracun atau mengakibatkan iritasi, dan berakibat infeksi.
Menghirup kokain dapat merusak selaput antara hidung, yang mengakibatkan perdarahan dan pada akhirnya erosi. Terdapat banyak laporan bahwa penggunaan bergantian alat-alat hirup dapat menularkan virus hepatitis C. Menggosokkan kokain ke gusi, vagina atau anus dapat menyebabkan lecet, yang dapat meningkatkan penularan terhadap HIV atau infeksi menular seksual lain. Penggunaan bergantian alat suntik juga berisiko menularkan HIV, virus hepatitis, dan infeksi darah lainnya.
Kokain tidak dimetabolisir oleh tubuh dengan cara yang sama dengan obat-obatan anti-HIV, sehingga sepertinya tidak berinteraksi dengannya.
Penelitian laboratorium mengatakan bahwa kokain mampu merubah fungsi kekebalan tubuh dalam berbagai cara, membuat sel-sel kekebalan tubuh lebih rentan terhadap HIV. Penelitian yang dilakukan terhadap tikus HIV-positif di laboratorium menemukan bahwa tikus yang terekspos terhadap kokain memiliki jumlah CD4 yang lebih rendah daripada tikus yang tidak diberi kokain. Hal ini memberi kesan bahwa penyakit HIV dapat bergerak lebih cepat pada pengguna kokain.
Namun, penelitian yang melibatkan penggunaan kokain secara berkala dan pergerakan penyakit di kalangan laki-laki gay telah memberi hasil yang bertolak belakang. Satu studi tidak menemukan hubungan sama sekali, sementara studi lain menyimpulkan penggunaan kokain seminggu sekali berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian. Karena penggunaan napza dapat menjadi indikator masalah sosial lainnya yang dapat memberi efek negatif terhadap kesehatan -- seperti kurangnya akses pelayanan kesehatan, atau masalah kesehatan lain -- jenis-jenis penelitian ini sulit untuk diinterpretasi.
Sebagaimana halnya dengan penggunaan napza rekreasional lain, alangkah baiknya mempertimbangkan bagaimana penggunaannya dapat berdampak terhadap kepatuhan pengobatan HIV anda. Bila anda khawatir tentang kebiasaan anda menggunakan napza rekreasional, maka dokter anda dapat merujuk anda ke tempat dukungan yang tepat.


Crystal methamphetamine (shabu-shabu)


Shabu-shabu merupakan bentuk sintetis amphetamine, sebuah obat stimultan.
Shabu-shabu dapat dibeli dalam bentuk pil, sebagai bubuk untuk dihirup lewat hidung atau disuntikkan, atau dalam bentuk kristal yang dihisap melalui pipa.
Shabu-shabu menyebabkan perasaan senang yang seketika, perasaan menajamnya fokus dan meningkatnya daya seksual.
Menghisap kristal methamphetamin menyebabkan meningkatnya suhu tubuh, peningkatan detak jantung dan pernapasan.
Paranoia, hilangnya ingatan jangka pendek, marah mendadak dan ketidakseimbangan emosi telah dilaporkan akibat penggunaannya.
Terdapat bukti anekdotal bahwa penggunaan shabu-shabu dapat menyebabkan orang menjadi lebih cepat sakit akibat HIV, lebih lama sembuh dari infeksi dan kurangnya respon terhadap pengobatan anti-HIV. Namun, beberapa orang percaya bahwa hal ini lebih banyak karena pengguna napza ini tidak patuh terhadap pengobatannya.
Menurunnya jumlah CD4 secara drastis juga telah dilaporkan pada pengguna shabu-shabu. Namun, karena banyak pengguna shabu-shabu yang kesulitan tidur, atau tidak makan dengan benar, mungkin ada faktor gaya hidup lain yang mempengaruhi pergerakan penyakit yang lebih cepat tadi.
Ketergantungan psikologis terhadap napza ini juga telah dilaporkan, walaupun sepertinya tidak menyebabkan adiksi fisik.
Menggunakan shabu-shabu dalam jumlah besar dapat menyebabkan kejang-kejang, masalah pada sirkulasi darah, kesulitan bernapas, koma dan kematian. Namun, kematian juga telah dilaporkan terhadap orang-orang yang hanya menggunakan dosis kecil.
Di Amerika terdapat kekhawatiran mengenai hubungan antara penggunaan shabu-shabu oleh laki-laki gay dan seks tak aman, khususnya bila digunakan bersamaan dengan obat-obatan untuk erectile dysfunction (ED), seperti Viagra dan Cialis.
Terdapat laporan mengenai interaksi antara shabu-shabu dengan protease inhibitor ritonavir (Norvir). Proses metabolisme shabu-shabu dalam tubuh menggunakan mekanisme yang sama dengan ritonavir. Dokter juga percaya bahwa penghirupan zat ini dapat memperburuk interaksi.
Penggunaan jenis napza apapun dapat mempengaruhi pola tidur normal, mempengaruhi nafsu makan dan menghalangi rutinitas. Beberapa orang menemukan bahwa hal ini lebih meningkat dengan penggunaan shabu-shabu. Bila anda menggunakan napza ini, pertimbangkanlah efek dari shabu-shabu terhadap kepatuhan anda terhadap obat anti-HIV. Shabu-shabu juga banyak dihubungkan dengan peningkatan kemungkinan melakukan seks tak aman, sehingga pertimbangkan bagaimana anda mengelola ini semua.
[Sumber: Aidsmap]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar